
Wayag island is one of the tourism destination in Raja Ampat, West Papua Province. It takes three hours by the speedboat from Waisai, Central of Raja Ampat. The coral reef is the main attractive in Raja Ampat. It's really amazing when you see the little hills.
But as tourism destination, Raja Ampat do not have a good facilties. There are only 2 resort: Kri Resort and Sorido Resort and also has only two cottages in Saonek Island and two homestay in Yenwaupnor. For the tips: If you want to visit Raja Ampat, please use the travel agent which has a liveaboard service, it will makes you feel better while you're enjoying Raja Ampat's nature.
Menurut pria yang sudah menyelam di berbagai tempat di Indonesia maupun mancanegara ini, pemandangan bawah laut di Kepulauan Raja Ampat sangat menakjubkan. "Saya menemukan tiga kuda laut yang tidak pernah ada di tempat lain. Terumbu karangnya juga sangat bagus, seperti taman di bawah laut," katanya.
Memang laut di sekitar Kepulauan Raja Ampat sangat kaya dengan organisme laut dan dihuni oleh terumbu karang paling asli di Indonesia.
Pulau-pulau ini termasuk dalam Segi Tiga Karang (Coral Triangle) yang terdiri dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea, Jepang, dan Australia. Kawasan Coral Triangle ini dikenal sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.
Kondisi karang di Raja Ampat 60% dalam kondisi sangat baik serta memiliki kombinasi keragaman karang dan ikan yang terbaik. Sebaliknya, 17% terumbu karang alam kondisi jelek, namun terletak di teluk tersembunyi yang tingkat pengendapan lumpurnya tinggi.
Selain itu, kepulauan yang memiliki luas sekitar 43.000 km2 ini juga ditemukan 828 spesies ikan karang. Peneliti memperkirakan ada sedikitnya 1.084 spesies ikan di kepulauan yang memiliki 44 pulau ini.
Formasi karang di Selat Dampier, yang terletak di antara bagian utara Pulau Batanta dan selatan Pulau Waigeo-Gam, merupakan daerah yang sangat kaya spesies ikan karangnya.
Tim ekspedisi sempat melakukan riset di perairan tersebut. Widodo Pranowo, anggota tim ekspedisi yang bekerja untuk Departemen Kelautan dan Perikanan mengatakan kondisi perairan Kepulauan Raja Ampat masih dipengaruhi oleh massa air dari Samudra Pasifik Barat (Western Pasific Ocean). Hal ini menunjukkan ada arus yang bergerak dari arah timur menuju timur laut dan sejajar dengan daratan besar Papua (Mainland) bagian utara.
"Ketika tiba di Laut Halmahera atau di utara Raja Ampat arus tersebut sebagian akan bergerak ke selatan memasuki Alur Pelayaran Jailolo dan sebagian besar yang lain akan berbalik arah menuju Samudra Pasifik lagi. Arus inilah yang dikenal sebagai Halmahera Eddy. Kami juga menduga bahwa ketika Arus Halmahera Eddy ini sebelum tiba di Laut Halmahera, ada sebagian kecil yang membelok memasuki Selat Dampier," ujarnya.
Menurut Widodo, tingkat kesuburan perairan di Raja Ampat sangat bagus, terbukti dengan banyaknya ikan-ikan besar pemakan plankton seperti ikan Manta Ray, dan beberapa jenis paus.
Sementara itu anggota tim riset yang lain, Andreas A Hutahean mengungkapkan kepulauan Raja Ampat sangat terkenal dengan keanekaragaman ikan-ikan karangnya yang tertinggi di dunia.
Terdapat lebih dari 1.084 spesies ikan terdapat di daerah ini yang secara garis besar dibagi menjadi tiga kelompok yang dominan, yakni ikan-ikan gobi (Gobiidae), ikan damsel (Pomacentridae), dan ikan maming (Labridae).
Khusus untuk jenis Pomacentridae Indonesia, terutama Raja Ampat, memiliki keanekaragaman yang tertinggi di dunia yang diikuti oleh Papua New Guinea, Australia, Thailand, Kepulauan Fiji, dan Maladewa.
Ekosistem terumbu karang di Raja Ampat, menurut Andreas, sama seperti perairan laut terbuka lainnya yang merupakan daerah yang oligotropik (miskin unsur hara atau nutrien). Namun uniknya, ekosistem terumbu karangnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perairan laut terbuka lainnya.
Menurut Andreas, keadaan ini sempat menjadi misteri selama beberapa dasawarsa. "Mengapa daerah yang miskin unsur hara bisa memiliki tingkat keanekaragaman hayati nomor dua tertinggi di dunia setelah hutan tropis di Amazone, Brasil?"
Andreas mengungkapkan hal ini disebabkan sifat dari ekosistem terumbu karang yang mempunyai sifat bisa mengelola makanan sendiri bagi organisme-organisme di dalam ekosistem tersebut secara aktif.
Andreas mencontohkan, pada pagi hari ditemukan adanya lapisan kental atau lendir di permukaan air di dekat pantai. Ternyata lendir tersebut kaya unsur protein dan hara. "Lapisan lendir ini ternyata yang menjadi sumber makanan bagi plankton di daerah terumbu karang. Sehingga rantai makanan mulai dari level produsen (plankton) hingga level konsumen tingkat atas (ikan karnivora/pemakan daging) terpenuhi," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengukuran, kondisi perairan Raja Empat memiliki kondisi yang sangat bagus, di mana salinitasnya berkisar antara 33-34 PSU. Kemudian temperatur di permukaan berkisar antara 28 derajat Celsius di kedalaman tertentu hingga 27 derajat Celsius. Kemudian penetrasi cahaya matahari bisa mencapai hingga 30-37 meter. "Hal ini menyebabkan terumbu karang dapat tumbuh dengan baik," katanya.
Walaupun terkenal sebagai tempat yang kaya keanekaragaman hayatinya, tim ekspedisi menemukan adanya dampak penangkapan ikan secara berlebihan. "Ikan napoleon atau maming yang sering dijadikan indikator besarnya penangkapan ikan, jarang kami temui selama penyelaman," ujarnya.
Selain itu, di daerah yang berpenduduk 48.707 jiwa ini, ada juga ditemukan tanda-tanda kerusakan habitat. Kerusakan ini disebabkan cara pengambilan ikan dengan bom atau racun.
Menurut penduduk sekitar, penangkapan ikan dengan cara itu awalnya dilakukan oleh nelayan dari luar Papua. Namun sekarang sudah ada putra daerah yang melakukan hal tersebut, karena cara pembuatan bom atau racun sudah dikuasai.
Selain penangkapan ikan yang merusak lingkungan, penebangan liar juga terjadi d kawasan cagar alam di Pulau Waigeo. Padahal Raja ampat memiliki potensi cukup besar untuk pengembangan wisata laut dan darat.
Keunikan dunia bawah laut dan hutan di kawasan itu sudah selayaknya dijaga dari ancaman perusakan alam. Sangat disayangkan bila surga dunia itu dihancurkan untuk kepentingan sesaat.
ANDA penikmat panorama kehidupan bawah laut? Coba bandingkan lokasi yang Anda ketahui dengan kawasan laut di Kabupaten Raja Ampat. Kekaguman pasti segera terlontar. Selain panorama indah di atas permukaan laut, biota di dalam laut pun menjanjikan keindahan. Berbagai jenis ikan bermacam ukuran dan warna hilir mudik tiada henti. Beraneka ragam karang keras dan lunak menambah semarak kehidupan.
RAJA Ampat terletak di ujung paling barat Pulau Papua. Informasi keindahan alam kabupaten ini tidak ditemui dalam buku panduan wisata reguler di Indonesia. Segala cerita dan foto mengenai daerah ini justru berasal dari dunia maya: Internet. Orang- orang bule yang berprofesi sebagai peneliti kehidupan laut, penyelam profesional, fotografer atau turis biasa membuat situs tentang kabupaten ini.
Karena keindahan alamnya, Raja Ampat menjadikan pariwisata-terutama wisata bahari-sebagai salah satu andalan kegiatan ekonomi. Saat ini ada satu perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang mengembangkan wisata bahari di Raja Ampat. Sebagian besar yang datang menikmati panorama alam Raja Ampat adalah warga asing.
Kabupaten Raja Ampat merupakan pemekaran Kabupaten Sorong. Kabupaten ini resmi menjadi daerah otonom pada 12 April 2003. Luas wilayahnya lebih kurang 46.000 kilometer persegi. Sekitar 85 persen merupakan luas laut. Sisanya, sekitar 6.000 kilometer persegi, merupakan daratan. Kabupaten ini memiliki 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau, hanya 35 pulau yang berpenghuni. Pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama.
Karena begitu banyak pulau tidak berpenghuni, tidak jarang warga negara lain memanfaatkan keberadaan pulau itu. Kepulauan Asia, misalnya, yang terdiri atas Pulau Fani, Igi, dan Miarin. Kepulauan itu merupakan bagian Kecamatan Ayau, wilayah paling utara Kabupaten Raja Ampat. Daerah ini berbatasan dengan Negara Palau. Pulau-pulau yang terpencil itu sering dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dari badai oleh nelayan-nelayan Filipina.
Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antarpulau dan penunjang kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah angkutan laut. Demikian juga untuk menjangkau Waisai, ibu kota kabupaten. Bila menggunakan pesawat udara, lebih dulu menuju Kota Sorong. Setelah itu, dari Sorong perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan transportasi laut. Sarana yang tersedia adalah kapal cepat berkapasitas 10, 15, atau 30 orang. Dengan biaya sekitar Rp 2 juta, Waisai dapat dijangkau dalam waktu 1,5 hingga dua jam.
Penduduk kabupaten ini tersebar di 88 kampung dan 10 distrik. Penggunaan nama kampung dan distrik sesuai dengan nomenklatur UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
Sebagian besar (80 persen) penduduk bekerja sebagai nelayan. Sesuai dengan kondisi geografisnya, selain pariwisata, Raja Ampat juga mengandalkan perikanan dan kelautan.
Hampir semua wilayah perairan pantai dan laut di Kepulauan Raja Ampat berpotensi untuk pengembangan perikanan tangkap dan budidaya. Komoditas unggulan perikanan tangkap antara lain ikan tuna, cakalang, tenggiri, kerapu, napoleon wrasse, kakap merah, teripang, udang, dan lobster.
Daerah penangkapan ikan kerapu dan napoleon berada di perairan Waigeo Utara, Barat, dan Selatan, serta Kepulauan Ayau, Batanta, Kofiau, dan Misool. Teripang dan ikan tenggiri mudah ditemukan di hampir seluruh perairan kabupaten ini. Lobster banyak diperoleh di Waigeo, Misool, dan Kofiau. Cumi-cumi banyak ditemukan di Misool dan Waigeo Selatan.
Sayangnya, kabupaten ini belum mempunyai data produksi perikanan di wilayahnya. Kontribusi hasil perikanan bisa dilihat dari jumlah nilai yang diberikan Raja Ampat kepada Sorong saat daerah ini masih bagian Kabupaten Sorong. Ketika itu, dari hasil kegiatan ekonomi di usaha perikanan, setiap tahun Sorong menerima tidak kurang dari Rp 1,5 miliar.
Ikan hasil tangkapan nelayan selain konsumsi lokal juga dipasarkan ke daerah lain. Daerah tujuan bagi pemasaran teripang, rumput laut, serta cumi- cumi kering dan ikan teri kering adalah Makassar, Surabaya, dan Jakarta. Adapun lobster juga dikirim ke Bali.
Di pasar, harga ikan kerapu dan napoleon sekitar Rp 125.000 per kilogram (kg). Teripang Rp 30.000-Rp 150.000 per kg, sedangkan harga lobster Rp 40.000-Rp 60.000 per kg.
Perikanan budidaya yang menjadi komoditas unggulan saat ini adalah mutiara dan rumput laut. Ada lima perusahaan yang mengembangkan budidaya mutiara secara modern di kabupaten ini. Tiga di antaranya adalah PMA, sisanya adalah perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Lokasi budidaya mutiara terdapat di Distrik Misool, Waigeo Barat, Waigeo Selatan, dan Batanta. Selain dijual ke pasar domestik, hasil budidaya mutiara diekspor ke Australia, Selandia Baru, Cina, dan Jepang.
Berdasarkan potensi masing- masing distrik, pemerintah kabupaten merencanakan pengembangan wilayah untuk empat sektor, yaitu pariwisata, perkebunan, pertambangan, dan perikanan.
Pariwisata, terutama wisata bahari, akan dikembangkan di Pulau Kofiau, Misool, Waigeo Selatan dan Barat, serta Kepulauan Ayau. Perkebunan dengan komoditas utama kelapa dalam dan kelapa sawit akan dipusatkan di Pulau Pam, Kofiau, dan Salawati. Kegiatan pertambangan dipusatkan di Pulau Salawati, Waigeo, Gag, Batanta, dan Misool. Di Salawati terdapat potensi batu bara dan migas. sedangkan Waigeo dan Gag memiliki nikel. Sementara itu, Batanta dan Misool masing-masing menyimpan potensi emas dan bahan baku pembuatan semen, sedangkan kegiatan perikanan diarahkan ke Kepulauan Ayau, Waigeo, Batanta, Salawati, dan Kofiau.
Aug 28, 2007
Raja Ampat, Exotic Diving Experience
Diposting oleh
Ronald Halim
di
9:12 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



1 comment:
Wah, transport ke Raja Ampat amat sangat mahal sekali ya? 2 juta dari Sorong ke Raja Ampat?? Tidak adakah alternatif lain?
nixland2@yahoo.com
Post a Comment